MENGHIDUPKAN KEMBALI PENDIDIKAN DI ACEH
(Kajian Kritis Pasca 100 Hari Kinerja SBY-JK)
Oleh Fajar Kurnia Putra
Menjelang akhir tahun lalu, kita melihat kedikdayaan Tuhan YME melalui rentetan musibah yang terjadi secara terus-menerus. Hal ini sangat memprihatinkan hati kita. Dari masalah banjir, kebakaran hutan, gempa di Nabire, Alor serta yang paling dahsyat lagi bencana Tsunami yang melanda di belahan dunia ini seperti yang terjadi di Indoneis tepatnya di NAD, Sumatera Utara beberapa waktu yang lalu.
Lebih seratus ribu orang tewas akibat kekuatan alam tersebut. Sekarang kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok, lusa, minggu depan, juga tahun depan. Saatnya sekarang kita hanya mampu berdoa dan pasrah kepada-Nya. Perlu kita ketahui bersama bahwa akibat gempa dan gelombang tersebut, berbagai sarana pendidikan yang ada di Aceh mengalami kerusakan total.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Departemen Sosial, bahwa bangunan sekolah yang rusak sebanyak 1.626 dengan klarifikasi 1.347 TK/SD/MI, 18 SMP/MTs, 92 SMA/SMK/MA. Di Alor, 264 bangunan yang rusak, 219 TK/SD/MI, 34 SMP/MTs, dan 11 SMA/SMK/MA. Sementara di Nabire, jumlah bangunan yang rusak sebanyak 86 terdiri dari 57 TK/SD/MI, 17 SMP/MTs, dan 12 SMA/SMK/MA.
Dengan demikian dapat dipastikan bahwa pelaksanaan belajar dan mengajar di NAD lumpuh total. Selain itu, masih ada duka yang mendalam akibat bencana ini. Terutama luka yang bersifat trauma yang dialami anak-anak disana.
Mendiknas Bapak Bambang Sudibyo mengungkapkan bahwa program kerja 100 hari bidang pendidikan nasional telah dilakukan secara optimal melalui lima program. Diantaranya ialah penataan buku-buku sekolah, subsidi silang biaya pendidikan, pencanangan guru sebagai profesi, intensifikasi gerakan nasional pemberantasan buta aksara serta kemitraan kepala sekolah daerah tertinggal dan daerah maju.
Dari lima program yang terpampang di atas ini bila dicermati, hanya baru sebatas jangka pangjang ke depannya saja. Sedangkan seharusnya sekarang memikirkan dengan cepat bagaimana nasib putra-putri bangsa ini yang sedang di landa gempa di Aceh. Inilah tantangan terberat yang segera harus dituntaskan dicari jalan keluarnya.
Kembali seperti apa yang dikatakan di atas, bahwa langkah yang pertama dan utama dalam memulihkan sistem pendidikan di Aceh yaitu di mulai melalui pembenahan mental anak-anak kita. Bagaimana pendidikan pengembangan mental itu? Yaitu dengan diberikannya sebuah kesadaran, Pemberdayaan, dan pembebasan.
Arti kesadaran di sini mengandung makna bahwa anak-anak tersebut dipancing serta diberi motivasi hidup agar timbul dorongan yang kuat untuk mewujudkan perilaku tertentu yang terarah kepada pencapaian tujuan tertentu. Serta selalu ditanamkan impian atau cita-cita guna mengembalikan semangat mereka yang sempat hilang.
Apabila sebuah kesadaran tersebut telah kita capai langkah selajutnya ialah dengan melalui pemberdayaan atau mengikutsertakan anak-anak tersebut dalam kegiatan yang bersifat positif. Misalkan saja, anak diberi kesempatan untuk dapat mengembangkan pribadinya (potensi diri) demi masa depannya yang lebih baik. Karena dengan pemberdayaan hubungan pribadi yang baik entah itu dengan dirinya sendiri atau lingkungannya diharapkan anak tersebut dapat secara bertahap beradaptasi kembali dengan lingkungannya seperti dulu.
Selanjutnya, setelah langkah kedua diatas cara pendidikan pengembangan mental itu ialah dengan cara diberi sebuah kebebasan. Yaitu diberi rangsangan-rangsangan untuk dapat berinteraksi kembali secara normal seluas-luasnya. Dan cenderung lebih diarahkan pada pola fikir untuk menatap jauh kedepannya.
Maka dengan ini, diharapkan anak-anak tersebut setelah menjalani guncangan jiwa yang begitu dalam dapat menemukan ruh dari dalam dirinya lagi serta mempunyai mental baja untuk dapat kembali lagi pada lingkungannya, setelah melalui pendidikan pengembangan mental ini.
Tidak berhenti hanya sampai disini saja. Sekarang, setelah pendidikan mental itu mereka peroleh, bagaimanakah cara mengembalikan trauma (mengingat kembali) masa-masa indahnya ketika mereka bersekolah bersama teman-temannya di kampung halamannya ini? Alternatif jitu adalah dengan mengembalikan kepada budaya daerah serta adat -istiadat tentunya sama persis dengan daerahnya dulu.
Dalam hal mengembalikan trauma dengan adat-istiadat serta budayanya seperti dulu yaitu menggunakan metode pendidikan mengingat. Karena apabila kita mengingat aspek-aspek yang ada di lingkungan kita dulu, anak-anak tersebut masih merasa pernah mempunyai masa-masa indahnya. Dimana di daerah itu mereka dibesarkan, dikasihi oleh orang yang mereka sayangi, merasa dihormati, serta di kampung halamannya itu pula mereka mempunyai adat-istiadat yang berbeda-beda.
Nah, agar lebih metode ini merasuk dalam hati serta pikiran mereka maka dibantu langkah-langkah preventif lainnya seperti dikasih sebuah materi. Materi-materi tersebut umumnya berisikan hal-hal yang langsung berhubungan dengan cerita-cerita budaya serta adat-istiadat yang pernah anak-anak tersebut lakukan. Seperti dengan menyanyikan lagu daerah, permainan tradisional, memperkenalkan sejarah daerahnya, mengingatkan kembali pada pahlawan-pahlawan dari daerah yang bersangkutan serta masih banyak lagi yang dapat dimasukkan dalam metode ini.
Kemudian anak-anak ini agar selalu dibuat senang. Yaitu diberi daya tarik yang sangat berbeda terhadap lingkungannya sehingga mereka mempunyai kesenangan sendiri serta mempunyai kekuatan dan kesenangan lain dari pada yang lain. Kemudian tahap terakhirnya ialah dengan diberi sebuah tanggungjawab. Yang berarti bahwa anak-anak tersebut diberi tanggung jawab untuk dapat menjadi apa yang mereka cita-citakan, tanggungjawab untuk apa yang mereka perbuat, serta tanggungjawab untuk hidup secara sosial atau bersama-sama. Dan yang terakhir yaitu bagaima mereka diberi tanggung jawab untuk dapat belajar atas apa yang mereka peroleh selama ini.
Pada langkah terakhirnya setelah berbagai upaya pemberian pendidikan seperti pengembangan mental, pendidikan pengembalian trauma pada lingkungannya itu tercapai, hendaknya kabinet SBY-JK bisa melanjutkan programnya pada pemberian pendidikan formal yaitu yang cnederung pada IPTEK dan IMTAK. Tentunya untuk dapat memenuhi itu semua segala sarana dan prasarana yang berkaitan langsung dengan ini seperti, buku-buku pelajaran, bantuan seragam sekolah, gedung sekolah yang baru atau paling tidak mendirikan tenda darurat khusus untuk kegiatan belajar mengajar harus segera dilakukan.
Menurut berita yang beredar bahwa pemerintah akan memberikan beasiswa kepada anak-anak di Aceh terutama mereka yang terkena bencana gempa dan gelombang Tsunami, yaitu sebesar RP. 120.000,00 per bulannya. Hal inilah yang patut kita acungi jempol. Karena di negara ini uang hasil bantuan dari luar negeri pun melimpah ruah hampir lebih 500 terilyun surplus bagi Indonesia. Nah, kalau bukan untuk pendidikan terus buat apa lagi? Di korupsi?.
Di samping itu, pemerintahan Persiden SBY dalam 100 hari kerjanya belum semaksimal mungkin menunjukkan adanya kejelasan penanganan masalah pendidikan. Pemerintah kabinet Indonesia bersatu cenderung menempatkan bidang pendidikan pada posisi subordinat disbanding kebijakan lain yang telah mendapat prioritas. Pak SBY-JK rasanya lebih cenderung pada masalah pemberantasan korupsi dan perekonomian. Karena apabila beliau benar-benar menomer duakan nasib pendidikan ini, sama halnya dengan mengabaikan masa depan bangsa. (Drs. Mansyur Semma, MSi, Staf pengajar Universitas Hasanudin)
Kita juga semua setuju bahwa apabila kita menelantarkan pendidikan di Indonesia sama halnya dengan mengabaikan masa depan diri kita sendiri. Mungkin dengan adanya bencana Tsunami ini pak SBY-JK lebih tergugah lagi untuk dapat memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia. Kita seharusnya bangkit untuk dapat memperbaiki kualitas pendidikan di negeri ini. Jangan sampai kita harus tunduk pada kebodohan. Karena orang-orang yang tunduk hanyalah merupakan kumpulan orang yang tidak mau maju dan berkembang. Oleh karena itu, pendidikan ini merupakan nyawa bagi bibit-bibit muda penerus bangsa ini serta motor penggerak untuk tercapainya cita-cita pembangunan nasional yang patut kita perjuangkan.