KENCAN DENGAN SI DUTA PARIWISATA…!!
Oleh Anhar Adhi Firdaus
Kudengar suara hiruk pikuk gunjingan kerumunan orang di warung nasi. Obrolan begitu santai, bebas, demokrasi, tidak ada undang-undang dan pasal-pasal tuli di situ. Dengan interior ala kadarnya. Pisang raja, kerupuk rambak, permen sugus, rempeyek, dan bermacam-macam gorengan palawija tertuangan dalam piring kaca yang kelihatan sudah retak dan agak berjamur. Beraneka ragam mulut ikut memeriahkan demokrasi warung nasi. Mulai dari politik, ekonomi, sosial, budaya, seni, kriminal, sex, sawah, sepak bola, kantor, togel sampai tetek bengek lainnya yang tidak dapat dihitung dengan bilangan jari dua puluh ditambah satu jari tengah….(Demokrasi Warung Nasi oleh Sujud Cahyono, Bandung 1999)
Ku Pandang Kau Jauh Disana
Ku pandang kau jauh disana jauh..jauh..dan jauh sekali…??Yogya tempo dulu berbeda jauh dengan Yogyakarta zaman sekarang. Apabila kita mau berpaling sejenak, syair puisi di atas serupa dengan apa yang terjadi di dalam kehidupan kita di kota ini. Ketika 2 tahun yang lalu tepatnya pada tahun 2002 Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X, memutuskan brand yang digunakan DIY adalah Never Ending Asia. Untuk menjadikan Yogyakarta sebagai tujuan utama di Asia dalam bidang tourism, trade and investment dalam lima tahun kedepan. Inilah brand utama kota Yogya sebagai identitas dari kota yang penuh dengan sejarah ini.
Untuk terus melestarikan semboyan ini, diperlukan pengorbanan dan usaha yang sangat keras. Oleh karena itu, proses sosialisasinya pun tak lepas dari dukungan berbagai elemen masyarakat yang ada di kota ini. Berbagai ososiasi dan himpunan serta musisi, seniman dan budayawan yang tak lupa pula ialah seluruh warga masyarakat Yogya sendiri juga turut mensosialisasikan brand image ini. Di era informasi ini peranan media dalam mensukseskan kampanye pemasaran sangat penting. Maka salah satu pilar suksesnya sosialisasi Never Ending Asia adalah dukungan dari berbagai media massa.
Kota Yogyakarta sebagai salah satu kota yang berbudaya dan berbudi luhur, memiliki peranan yang sangat penting dalam usaha menumbuhkan kembali kepercayaan masyarakat dunia atas stabilitas keamanan dan ketertiban di Indonesia. Karena semenjak adanya kejadian berbagai macam ancaman bom, yang melanda di berbagai daerah di Indonesia ini, seperti di Jakarta dan Bali, terjadi penurunan omset pariwisata yang sangat drastis. Akibatnya para wisatawan baik itu mancanegara maupun dalam negeri sendiri masih takut apabila ingin berkunjung ke Indonesia. Sehingga berdampak pada pemasukan devisa di dalam negeri.
Dari masalah itulah Yogyakarta ingin memperlihatkan kepada dunia bahwa stabilitas keamanan dan ketertiban di Indonesia sudah mulai aman dan terkendali, hal ini dapat dilihat dari naiknya animo wisatawan luar negeri maupun wisatawan nusantara untuk berkunjung ke Yogyakarta pada tahun ini. Melalui bidang pariwisa inilah, yang dapat memberikan konstribusi yang amat besar bagi perekonomian, khususnya bagi pemasukan anggaran otonomi daerah bagi kota Yogyakarta.
Secercah Harapan Dimasa Depan
Hampir kurang lebih 3 tahun sudah yaitu dari tahun 1946 hingga akhir tahun 1949, Yogyakarta pernah menjadi Ibukota Negara Republik Indonesia. Pada masa itu, para pemimpin bangsa ini, berkumpul di kota perjuangan ini. Seperti layaknya sebuah kota yang berkembang pada masa itu, Yogyakarta pun memikat kedatangan kaum remaja dari seluruh penjuru tanah air. Mereka ingin dapat berpartisipasi bersama-sama membangun negara yang baru saja merdeka ini. Oleh karenanya, untuk membangun negara ini diperlukan tenaga-tenaga ahli, terdidik dan terlatih. Maka, Pemerintah RI kemudian mendirikan suatu lembaga yang bergerak dalam bidang pendidikan yaitu Universitas Gadjah Mada, yang merupakan universitas negeri pertama di kota itu. Pada waktu selanjutnya, berbagai jenis lembaga pendidikan negeri maupun swasta mulai bermunculan. Hal inilah yang telah menjadikan Yogyakarta tumbuh sebagai kota pelajar dan pusat pendidikan hingga sekarang.
Nah, seperti apa yang telah dikatakan di atas tadi, Yogyakarta selain sebagai kota yang berbudaya, bersejarah, juga dikatakan sebagai kota pelajar. Apabila kita bandingkan dengan kota-kota besar yang ada di Indonesia seperti di Jakarta, Surabaya, Bandung dan Makasar, kualitas pendidikan di Yogyakarta tidak kalah baiknya. Hal ini dapat dilihat dari tampilnya putra-putri terbaik kota Yogyakarta sebagai wakil dari kota Yogya sendiri maupun sebagai wakil dari bangsa Indonesia untuk dapat unjuk gigi tampil mengharumkan nama Indonesia di berbagai kancah kejuaraan di luar negeri.
Berkat penelitian kripik bonggol Arko Jatmiko Wicaksono siswa SMA negeri 6 Yogyakarta diundang untuk mengikuti ASEAN Youth Day Meeting (ASEAN Youth Award Presentation 2004) di Brunei Darusalam. Selain itu pula, Sukma Pribadi siswa SMA Negeri 1 Wonosari beserta 4 siswi dari SMA Negeri 3 Yogyakarta yaitu Tabita O, Devi M, Sofia Imacullata dan Della Permata, kelima putra-putri kebanggaan kota Yogyakarta ini akan mengikuti seleksi nasional IBO (Internasional Biologi Olimpiade) di Batam tanggal 24-29 Agustus 2004 yang lalu. Juga, salah satu putri terbaik dari Yogyakarta yaitu Lisendra Marbelia siswi dari SMA Negeri 3 Yogyakarta berhasil meraih perunggu dalam International Chermistry Olympiad (IchO) atau Olimpiade Kimia Tingkat Dunia yang berlangsung di Kiel Jerman tanggal 17-26 bulan Juli yang lalu. Nah, hal inilah yang menandakan bahwa kota Yogyakarta juga mempunyai siswa-siswi yang berprestasi tak kalah dengan kota-kota lain di Indonesia. Itulah salah satu yang membuat kebanggaan tersendiri mengapa kota Yogyakarta pantas mendapat julukan sebagai kota pelajar ataupun kota pendidikan.
My Name is Yogyakarta
Kota Yogyakarta sebagai kota yang bersejarah, masih banyak sekali menyimpan rahasia-rahasia yang terpendam belum tergali semua untuk dapat ditunjukkan kepada Dunia. Situs-situs bersejarah seperti candi-candi dan arca-arca peninggalan kerajaan Mataram kuno atau peninggalan kerajaan lain, masih belum bisa diungkap semuanya. Oleh karena itu, hal inilah yang dapat menambah nilai positif bahwa Yogyakarta juga sebagai salah satu obyek pariwisata kesejarahan, selain sebagai kota yang berbudaya, kota pelajar dan kota gudeg.
Citra inilah yang dapat membawa Yogyakarta guna tampil dimata dunia untuk memperkenalkan keanekaragaman serta kebudayaan pariwisata yang ada di Yogyakarta, salah satunya ialah obyek pariwisata kesejarahan.
Dalam bukunya yang berjudul Pariwisata Indonesia, Sejarah dan Prospeknya DR. James J. Spilline mengungkapkan bahwa Pariwisata adalah kegiatan melakukan perjalanan dengan tujuan mendapatkan kenikmatan, mencari kepuasan, mengetahui sesuatu, memperbaiki kesehatan, menikmati olahraga atau istirahat, menunaikan tugas, dan berziarah. Sedangkan wisatawan adalah orang yang berpergian dari tempat tinggalnya untuk berkeunjung ke tempat lain dengan menikmati perjalanan dari kunjungannya itu.
Dalam bukunya ini, Spilline membagi pariwisata atas enam jenis khusus, yaitu pariwisata untuk menikmati perjalanan, pariwisata untuk rekreasi, pariwisata untuk kebudayaan, pariwisata untuk olahraga, pariwisata untuk urusan usaha dagang, dan pariwisata untuk berkonvensi.
Salah satunya ialah pariwisata untuk kebudayaan. Hal ini ditandai dengan serangkaian motivasi seperti keinginan belajar di pusat riset, mempelajari adat-istiadat, mengunjungi monumen bersejarah dan peninggalan purbakala dan ikut festifal seni musik serta lain-lain.
Untuk itulah Daerah Istimewa Yogyakarta ini, haruslah terus selalu berusaha mengembangkan salah satu aset berharganya yaitu obyek pariwisata kesejarahan. Agar dapat terus dilindungi dan dilestarikan keberadaannya sebagai bagian dari salah satu obyek pariwisata di kotaYogya.
Pembangunan dibidang pariwisata inilah diharapkan mampu meningkatkan kehandalan pariwisata sebagai modal dasar yang kuat dalam membangun perekonomian daerah dengan melibatkan masyarakat banyak sebagai subjek atau pelaku usaha. Dalam kaitan ini sumberdaya manusia dan sumberdaya pariwisata menjadi komponen unggulan dalam pembangunan ekonomi di DIY.
Seperti apa yang telah dikatakan oleh bapak Nur Achmad Affandi, selaku wakil ketua DPRD propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta bahwa visi pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta sampai tahun 2008 adalah terwujudnya daerah tujuan wisata andalan yang aman, nyaman, kompetitif, mudah untuk dikunjungi, serta memberikan konstribusi positip bagi masyarakat dan daerah.
Pembangunan pariwisata memiliki karakter dan sifat interdepedensi atau memiliki keterkaitan lintas sektoral, spasial, structural multi dimensi, dan interdisipliner, yang bertumpu pada masyarakat sebagai kekuatan dasar. Pada hakikatnya pembangunan kepariwisataan bertumpu pada keunikan, kekhasan, dan kelokalan, sehingga menempatkan kebhinekaan sebagai sesuatu yang hakiki.
Di Yogyakarta sendiri banyak sekali obyek-obyek wisata yang masih harus terus dilestarikan keberadaannya. Seperti halnya dengan obyek wisata Kota Gede, yang letaknya disebelah tenggara Yogya merupakan kota kuno kerajaan Mataram. Selain itu wisatawan yang berkunjung kesana dapat menyaksikan proses pembuatan kerajinan perak dan juga membelinya sebagai buah tangan atau cinderamata bagi keluarga maupun sahabatnya.
Selain itu dapat disaksikan pula bangunan-bangunan tua sebagai saksi sejarah pernah adanya kerajaan Mataram Islam di daerah ini sebelum dipindahkan, misal gerbang-gerbang kraton, atau kompleks makam Sapto Renggo atau lebih sering disebut makam kota gede. Itulah hanya merupakan salah satu dari berbagai macam obyek pariwisata kesejarahan ini.
Selain Kota Gede, masih banyak sekali obye-obyek pariwisata kesejarahan yang menyuguhkan kekhasan tersendiri dari obyek pariwisata ini, diantaranya ialah candi Prambanan, candi Sari, candi Kalasan, candi Plaosan, candi Sambisari, Ratu Boko, candi Sewu, Komplek Puro Pakualaman, Makam Imogiri, Keraton Kesultanan Ngayogyokarto, Monumen Yogya kembali, Museum Sonobudaya, dan Museum Sasmitaloka. Misalnya di Museum Sonobudaya, terdapat koleksi-koleksi benda-benda seni budaya dan purbakala yang tak ternilai seperti beranekaragam patung Hindu-Budha, wayang, pakaian tari, senjata, keris dan porselen zaman dinasti kerajaan Cina. Museum Ini dibanguan pada tahun 1935, terletak di sebelah barat-daya alun-alun utara kraton Yogyakarta.
Pada tahun 2002 tepatnya pada bulan Oktober yang lalu, di Bali terjadi tragedy yang sangat tragis, yaitu terjadinya peledakan bom Bali yang berimbas pada terpuruknya masa depan pariwisata di Bali. Terjadi pula pada tahun 2004 ini yaitu kasus pengeboman yang serupa yang terjadi tepat di depan Gedung Kedutaan Besar Australia kawasan jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta pada hari Kamis tanggal 9 September 2004. Apabila kita mau belajar dari berbagai masalah tersebut, contohnya saja selama ini pariwisata Bali masih amat tergantung pada kunjungan Wisatawan mancanegara. Memang ada, sebagian dari wisatawan nusantara yang berkunjung ke bali, akan tetapi yang lebih dominan kesana ialah masyarakat luar negeri yang ingin berlibur dan menghabiskan akhir pekannya untuk berlibur ke Bali.
Singkat kata, wisatawan luar negeri memang merupakan pasar internasional yang potensial untuk menghidupkan industri pariwisata kita. Namun, perlu kita ingat serta perlu kita garis bawahi bahwa, masih ada factor lain yang dapat membawa prospek pariwisata Indonesia agar dapat lebih maju untuk masa depannya yaitu adanya dukungan dari wisatawan nusantara yang merupakan pasar domestik yang perlu kita kembangkan lebih lanjut lagi. Oleh karena itu, pasar domestik ini jangan diabaikan begitu saja tetapi, harus terus digarap secara serius dan intensif, demi mempertahankan kelangsungan hidup pariwisata di tanah air yang telah menjadi sumber nafkah hidup jutaan orang atau rakyat Indonesia.
Yogyakarta patut berbangga hati karena mendapat kepercayaan untuk menjadi tuan rumah sekaligus pelaksana event pariwisata berskala Internasional yakni Tourism Indonesia Mart & Expo (TIME) alias pasar wisata Indonesia pada tanggal 22-29 September tahun ini. Di sisi lain Yogyakarta selaku tuan rumah, mau tak mau mempunyai tanggungjawab yang besar yaitu harus mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin untuk menyambut acara yang tergolongan sangat istimewa tersebut.
Ada yang berpendapat dikalangan ahli bahwa merosotnya atau majunya pariwisata kita hanya dilihat sebatas pada sepi atau ramainya kunjungan wisatawan ke daerah tujuan wisata atau bahkan ke lokasi obyek wisata di daerah yang bersangkutan. Sementara itu, baik-buruknya kinerja pariwisata di DIY amat dipengaruhi secara langsung maupun tak langsung oleh kondusif-tidaknya kondisi DIY secara keseluruhan bagi pariwisata atau wisatawan itulah yang dikemukakan oleh sebagain para ahli pengamat pariwisata khususnya di Yogyakarta.
Dari berbagai problema itulah timbul berbagai masalah yang terjadi berkaitan dengan keamanan terutama keamanan wisatawan, kesehatan lingkungan, politik, sosial-budaya, aksebilitas (tranportasi), komunikasi dan lainnya yang semua masalah itu akan mempengaruhi baik secara langsung maupun tidak langsung arus kunjungan wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara ke DIY.
Untuk menjaga supaya hal-hal itu tidak terjadi maka, kita harus dapat melakukan suatu tindakan yang sifatnya permeable dapat dilakukan oleh siapa saja. Karena apabila stabilitas keadaan yang kondusif tersebut dapat kita pertahankan, hal ini akan berdampak pada arus masuknya wisatawan baik itu wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara.
Misalkan, bagi seorang wisatawan yang berkunjung ke obyek tujuan wisata di daerah Istimewa Yogyakarta ini, ibarat sebagai seorang tuan rumah kita sebagai bagian dari masyarakat Yogya harus memperlakukan tamu kita sebaik mungkin. Apabila wisatawan-wisatawan tersebut berkunjung maka buatlah mereka untuk dapat tinggal di sini senyaman mungkin tanpa adanya masalah-masalah yang dapat mengancam tentunya terhadap dirinya sendiri.
Dalam hal ini, tentunya peran dari pemerintah lagi-lagi sangat dibutuhkan. Sebagai pamong atau contoh masyarakat, pemerintah supaya dapat melakukan usaha-usaha untuk mengatasi problema yang berkaitan dengan pariwisata di Yogyakarta tentunya. Contohnya memperbaiki sistem transportasi, komunikasi, politik, dan bersama-sama dengan masyarakat Yogya untuk menjaga nilai sosial serta nilai budaya yang telah ada, dan yang tak kalah pentingnya ialah memperbaiki sistem kesehatan lingkungan agar benar-benar steril terhindar dari masalah-masalah yang dapat mengganggu stabilitas keamanan kepariwisataan di Yogyakarta pada umumnya.
Kesatria Muda tak Berkuda
Pada cerita-cerita di flim kartun, sinetron, telenovela, mandarin, ataupun komik, cerpen, serta cerita dari radio bahkan yang kerap kita tonton atupun kita dengar dan kita baca, banyak dari dalam cerita tersebut muncul suatu peran terutama dalam cerita-cerita yang bersifat laga. Dalam satu kisahnya ada mungkin seorang tokoh utama atau pahlawan atau pun juga seorang kesatria, yang dalam cerita tersebut memerankan figure yang amat sentral atau penting. Karena tokoh utama dalam cerita itulah yang dapat membawa nyawa atau suatu pesan sosial atau bahkan pesan moral yang akan disampaikan oleh sutradara melalui cerita tersebut.
Seperti itu pula, sebaiknya kepariwisataan yang ada di Yogyakarta ini dapat terus ditumbuhkan serta dikembangkan sebagaimana mestinya. Sebagai bagian dari kota Yogya sendiri mau tidak mau kita harus dapat malaksanakannya. Yogyakarta sebagai daerah tujuan wisata sekaligus sebagai kota pelajar dan kota pendidikan tentulah harus bisa memaksimalkan potensi yang ada sekarang.
Misalkan Yogya dianggap sebagai kota pelajar dan kota pendidikan, maka tunjukkanlah semangat atau potensi itu. Yaitu dengan mengerahkan duta atau wakil termuda kita yang tak lain ialah para pelajar itu sendiri. Kita tumbuhkan semangat kepahlawanan serta jiwa muda mereka sebagai seorang duta tentunya wakil pariwisata bagi kota Yogyakarta, untuk dapat mengembangkan, memperkenalkan, serta melestarikan aset penting kepariwisataan yang ada di Yogyakarta.
Ibarat sebagai seorang kesatria tak berkuda, pelajar harus dapat memerankan peranan dan fungsinya secara maksimal untuk dapat membawa visi serta misinya sebagai tokoh utama dalam rangka mengembangkan kepariwisataan di Yogyakarta.
Yang pertama, peran pelajar itu sebagai Inisiator yaitu pelajar hendaknya mampu menjadi “penjual ide” kegiatan keilmuan di lingkungannya. Ia dengan bersunguh-sungguh serta mempunyai tanggungjawab yang besar, mampu menyumbangkan ide-ide kreatifnya untuk dapat mengembangkan pariwisata ini. Kedua, sebagai motivator yaitu dapat menimbulkan semangat “cinta kepariwisataan” dan dapat menggerakkan antar sesamanya baik dilingkungannya sendiri maupun dimana saja. Ketiga, sebagai Fasilitator yaitu dengan bekal yang mereka miliki, pelajar dapat berperan aktif sebagai fasilitator dalam rangka meningkatkan mutu kepariwisataan di Yogya. Yaitu melakukan kerja sama dengan lembaga-lembaga kepariwisataan atau badan pariwisata milik pemerintah. Keempat, sebagai tauladan yakni pelajar hendaknya diharapkan menjadi seorang duta yang dapat menjadi contoh serta mempelopori tentunya dalam hal yang bersifat positif, sebagai tauladan entah itu di keluarganya sendiri ataupun dalam lingkungan sosial sekalipun. Sekaligus membawa misi untuk dapat memperkenalkan, serta melestarikan kepariwisataan yang ada di Yogyakarta ini.
Maka dengan adanya peran serta tersebut juga merupakan tanggung jawab kita bersama, kita diharapkan agar dapat menjaga serta melestarikan kembali obyek-obyek pariwisata yang ada di DIY sebagai kota yang bersejarah dan berbudaya. Agar aset penting tersebut tidak punah serta termakan zaman akibat banyaknya bangunan-bangunannya yang runtuh hingga roboh.