Galeri Karya

Friday, September 08, 2006

 

Hak anak Atas lingkungannya


HAK ANAK ATAS LINGKUNGANNYA ADALAH HAK DASAR UNTUK MEMARISI HIDUP
Oleh Anhar Adhi Firdaus
“Keadaan lingkungan hidup secara nyata membantu untuk menentukan sejauh mana orang dapat menikmati hak-hak dasarnya untuk hidup, kesehatan, makanan, dan perumahan yang layak serta atas penghidupan dan budaya tradisionalnya, … Hak dasar untuk hidup terancam oleh degradasi dan deforestasi, paparan bahan kimia beracun, limbah berbahaya, dan pencemaran air minum” (Klaus Toepfer, Direktur Eksekutif United Nations Environment Programme)
Di dalam lingkungan hidup terdapat materi kehidupan yang tentang hak-hak dasar manusia serta prinsip keadilan lingkungan dan juga akses yang setara terhadap sumber-sumber kehidupan. Konflik ekologi yang telah menyebabkan krisis dan ketimpangan global yang ada tidak saja mengakibatkan kerusakan lingkungan hidup akan tetapi telah mengikutsertakan penghilangan hak-hak dasar dan pelanggaran hak asasi manusia. Perubahan cara manusia memanfaatkan lingkungan hidup dan sumber-sumber kekayaan alam sudah tidak bertanggungjawab lagi terhadap kelangsungan hidup ekosistem yang ditempatinya.
Masalah pencemaran lingkungan yang terjadi seperti di Teluk Buyat di Kabupaten Minahasa dan Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Telah menimbulkan luka yang mendalam pada masyarakat sekitar terutama bagi anak-anak disana. Bahkan akibat pencemaran limbah cair ini banyak diantara anak-anak kita mati keracunan.
Menurut mantan Menkes RI Achmad Sujudi, anak merupakan investasi bangsa, karena mereka adalah generasi penerus bangsa. Kualitas bangsa dimasa depan juga ditentukan oleh kualitas anak-anak saat ini. Oleh karena kesehatan adalah hak asasi, maka menjadi kewajiban semua pihak untuk menjamin kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak Indonesia.
Upaya-upaya yang dilakukan pemerintah atau lembaga sekaliber UNICEF atau WHO sekali pun guna memperhatikan hak-hak dasar anak yaitu hak untuk hidup belum seratus persen mencapai sasarannya.
Makin maraknya penyakit seperti demam berdarah dengue, diare, TBC, cacingan, infeksi saluran pernafasan akut, serta keracunan makanan akibat buruknya sanitasi dan keamanan pangan dirasa terus meningkat. Selain itu resiko gangguan kesehatan pada anak akibat pencemaran lingkungan dari berbagai proses kegiatan pembangunan makin tinggi pula. Seperti makin meluasnya gangguan akibat paparan asap, emisi gas buang sarana transportasi, kebisingan suara, limbah industri dan rumah tangga serta gangguan kesehatan seperti yang terjadi akhir-akhir ini yaitu akibat bencana alam seperti di NAD, Sumatera Utara.
Hal inilah yang menjadi tantangan dan hambatan mereka yaitu pemerintah serta lembaga sosial yang peduli akan anak-anak dan lingkungan hidup. Mereka dituntut untuk dapat mengatasi pencemaran dan berbagai macam wabah penyakit yang dapat menyerang masyarakat Indonesia terutama masalah yang rawan ini dapat berdampak pada anak-anak.

A. Nilai-nilai dalam Perlindungan Alam
Patut kita sadari bersama bahwa lingkungan merupakan salah satu komponen terpenting dalam hidup kita, terutama bagi perkembangan serta kesehatan anak-anak kita. Perlunya bangsa ini melestarikan serta mempertahankan alam sekitar juga merupakan tanggungjawab bersama. Hamparan keindahan alam serta keunikan yang ada di dalamnya mempunyai nilai-nilai tertentu yang dapat mempengaruhi pribadi jiwa manusia. Nilai-nilai yang tersimpan tersebut antara lain :
Nilai ilmiah, artinya perlidungan alam sekitar kita dapat digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan misalnya untuk penelitian.
Nilai ekonomi, bahwa semua kebutuhan manusia diperoleh dari leingkungannya, termasuk disini adalah kebutuhan akan materi atau financial.
Nilai mental spiritual, kekaguman terhadap keindahan alam akan dapat meningkatkan ketaqwaan kita terhadap Tuhan YME terhadap keindahan ciptaan-Nya ini.
Nilai keindahan (estetis) dan keselarasan. Alam yang mengandung komponen-komponen ekosistem secara seimbang akan menjamin keselarasan proses yang terjadi di dalamnya.
Nilai-nilai di atas sangat erat sekali dalam hubungannya dengan diri kita. Melalui nilai-nilai itulah pribadi masyarakat kita terbentuk. Sejarah, adat-istiadat, tingkah laku serta hubungan sosial antara satu dengan lainnya merupakan pengaruh dari berbagai nilai-nilai tersebut.
Tidak heran pula bila, sifat atau tingkah laku yang beraneka ragam yang muncul dari anak-anak kita juga merupakan salah satu pengaruh dari lingkungan sekitarnya. Hal ini disebabkan karena mereka telah banyak bergaul serta berinteraksi dengan lingkungannya. Apa saja yang ada di sekitarnya itu, hal inilah yang dapat mempengaruhi pertumbuhan anak tersebut. Mereka mempunyai hak yang sepenuhnya atas lingkungan sekitarnya. Terutama hak akan kehidupan yang seimbang. Dimana di dalam lingkungannya itu semua aspek yang ada dapat menjadi bagian dari kehidupan anak-anak ini.
Akan tetapi, saat ini hak-hak anak terutama anak-anak di Indonesia masih belum sepenuhnya terwujudkan yaitu ketika kita berbicara mengenai hak dasar anak akan hidup. Hal ini dapat dilihat dengan masih rendahnya Indeks Pembangunan Manusia Indonesia (IPM) yang berada pada peringkat 112 dari 174 negara. Di tingkat ASEAN, angka kematian bayi di Indonesia 35 per 1.000 kelahiran hidup yaitu hampir 5 kali lipat dibandingkan dengan angka kematian bayi tetangga kita yaitu Malaysia. (Data Wahana Lingkungan, 29/12/04)
Nah, masalah yang terpentingnya sekarang ialah apakah yang menjadi penyebab utama dari munculnya masalah ini? Tingginya angka kematian anak lebih dari 80% ini, salah satu penyebabnya ialah menyebarnya berbagai macam wabah penyakit seperti yang telah diutarakan diatas tadi. Misalkan saja saluran pernafasan akut, TBC, demam berdarah dan lain-lainnya. Wabah penyakit tersebut telah menimbulkan masalah serta dampak yang sangat besar bagi bangsa ini. Siapakah yang patut kita salahkan? Pemerintah, masyarakat ataukah oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab bahkan Tuhan sekalipun?
Tentu tidak, justru berbagai macam musibah serta wabah yang menyerang anak-anak kita sehingga menyebabkan kematian adalah merupakan takdir atau ketetapan sendiri dari Tuhan YME.
Kita tentunya hanya bisa secara bersama-sama untuk dapat menekan atau paling tidak meminimalisir sedemikian rupa agar wabah-wabah penyakit itu dapat kita atasi.

B. Mengupayakan Lingkungan Sehat bagi Anak Indonesia
Semua pihak harus turut berpartisipasi untuk mengupayakan guna menjamin kesehatan masyarakat, terutama kesehatan anak-anak Indonesia. Kenyataan menunjukkan, meski pembangunan kesehatan telah menurunkan angka kematian bayi dan balita Indonesia, namun angka kesakitan belum dapat ditekan terutama pada resiko penularan bibit penyakit pada anak-anak.
Bahkan tingginya angka kesakitan dan gangguan gizi yang diderita oleh bayi dan anak balita di Indonesia pada saat ini mempengaruhi kualitas beranjak menjadi remaja. Oleh karena itu, apabila kelangsungan hidup dan tumbuh berkembangnya anak tidak diberikan prioritas dan perhatian khusus maka kondisi bangsa dan negara Indonesia pada tahun 2015-2020 akan semakin terpuruk lagi karena buruknya kualitas SDM akibat wabah penyakit yang menghambat tersebut. Maka dari itu, segala usaha untuk menekan laju kematian anak-anak kita patut untuk diperjuangkan dengan kerja keras.
Sedangkan Visi program Nasional Bagi Anak Indonesia (PNBAI) 2015 yaitu anak Indonesia yang sehat, tumbuh dan berkembang, cerdas, ceria, berakhlak mulia, terlindungi dan aktif berpartisipasi di samping ibunya yang sejahtera. Haruslah benar-benar dapat dijadikan sebagai acuan dalam rangka menekan angka kematian di Indonesia.
Selain itu upaya yang dapat kita lakukan untuk meminimalisir angka kematian ini ialah :
Dengan menanamkan perilaku hidup bersih dan sehat di dalam lingkungan keluarga, masyarakat bahkan dilakukan lewat upaya kesehatan berbasis sekolah.
Melaksanakan program lingkungan sehat dan pemberdayaan peran serta masyarakat dalam menjaga lingkungan serta adanya program pelayanan gizi pada anak-anak dan balita.
Adanya perlindungan dan pelayanan kesehatan anak pada kelompok masyarakat yang notabene miskin.
Pemberdayaan aspek sosial seperti keluarga, masyarakat dan pemerintah, dalam bidang penyuluhan lingkungan hidup.
Meningkatkan kerja sama dan koordinasi lintas sektoral serta meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan anak yang komprehensif dan berkualitas.
Memelihara proses ekologi yang esensial dalam mendukung kehidupan yaitu dengan menjamin pemanfaatan jenis dan ekosistem secara berkelanjutan.
Pemerintah supaya menargetkan daerah-daerah dimana angka kematian paling tinggi serta dengan menargetkan mengurangi angka kematian bayi bersama dengan program kesehatan lainnya seperti kesehatan ibu.
Menilai, menganalisa dan mendokumentasikan faktor-faktor risiko lingkungan secara sistematis dengan faktor pada kelompok-kelompok yang rentan.
C. Anak Indonesia Patut Mewarisi Hak atas Lingkungannya
Dengan ditetapkannya UU No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak, kesempatan anak Indonesia untuk hidup sehat, tumbuh, dan berkembang secara optimal menjadi semakin terbuka. Dalam undang-undang itu dinyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuhan fisik, mental, spiritual dan sosial.
Kita juga sebagai anak Indonesia yang peduli akan lingkungan serta kehidupan kita, tentunya juga harus berperan aktif dalam rangka pencegahan tingkat kematian itu. Karena walau bagaimanapun kita tetap mempunyai warisan akan hak hidup itu.
Karena tidak ada seorang pun yang dapat mengambil hak-hak kita atas lingkungan yang ada di sekitar kita. Karena lingkungan sudah merupakan bagian terbesar di dalam kehidupan kita di dunia. Apalagi hak-hak kita sudah dipatenkan oleh pemerintah dalam bentuk UU. Jadi, kita tidak usah takut lagi untuk menuntut hak-hak tersebut.
Sebagai anak Indonesia harus mempunyai jiwa imu pengetahuan lingkungan agar kita dapat hidup berdampingan dengan lingkungan sekitar kita. Karena ilmu lingkungan itu ialah agar kita mengenal, mendalami lingkungan, demi kepentingan kehidupan kita sendiri. Karena arti sebuah kehidupan adalah rentetan perjuangan untuk dapat bertahan hidup, demi kelangsungan spesies kita yaitu seluruh umat manusia di bumi.

Comments: Post a Comment



<< Home

Archives

August 2006   September 2006  

This page is powered by Blogger. Isn't yours?